Mustahil
Tiga bulan yang lalu, gak pernah terlintas dipikiran gua, bahwa libur sepuluh hari yang gua dapat karena kelas dua belas ujian bakal berubah jadi sekolah dari rumah yang entah sampai kapan. Masalah pun berdatangan. Awal-awal sempat terasa kacau, walau sampai akhir pun tetap terasa kacau. Guru yang awalnya bersikap ramah di depan para murid di kelas berubah menjadi mengerikan dan menjengkelkan lewat tugas tugas-tugas aneh yang mereka berikan kepada para murid. Gua sebagai murid yang biasa aja, tetep ngerasa perlakuan menyebalkan ini benar-benar kelewatan. Setelah melewati berbagai rintangan, mendaki gunung, melewati lembah, bernego dengan para elit kelas, dan bertanya di grup kelas yang terasa seperti kuburan, akhirnya berbagai tugas aneh bisa gua kerjakan dengan mep- tepat waktu. Ujian akhir pun telah gua lewati dan gua merasa bebas sebebas bebasnya dari segala beban dan akhirnya menikmati hidup gua. Awalnya gua berpikir begitu. Beberapa hari selesai ujian akhir, gua mulai m...