2031

Di semester empat ini gua punya salah satu mata kuliah yang cukup unik. Matkul ini bisa dibilang berhubungan, tapi juga tidak berhubungan dengan jurusan gua yakni Teknik Informatika (TI). Nama matkul tersebut adalah Kecakapan Antar Personal (KAP). Kedengaran seperti matkul anak Soshum sekali bukan? Bahkan dosennya itu orang dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Bagian mananya coba yang berhubungan dengan anak TI yang Saintek banget ya kan? Atau mungkin begitulah yang gua pikirkan pada awalnya.

Setelah beberapa pertemuan, akhirnya gua mulai mengerti sedikit demi sedikit bagian mananya tentang KAP yang berhubungan dengan TI. Kalau dipikir-pikir, memang benar kita tidak akan pernah bisa lepas sama yang namanya berinteraksi dengan orang lain, bahkan ketika lu itu anak TI sekalipun. Di matkul ini gua belajar, gimana caranya berinteraksi secara benar dan tepat dengan orang lain. Bukan berarti pengetahuan gua selama ini tentang berinteraksi dengan orang lain salah semua atau sempurna banget gitu, tapi KAP ini membantu gua menutupi dan membenarkan berbagai hal yang kurang dari skill berinteraksi gua. Kalau diibaratkan di game Persona, status social link gua naik level lah. Bisa dibilang ini matkul favorit gua untuk semester ini. Walau tidak langsung berhubungan dengan percodingan dan lain sejenisnya, tetapi gua cukup enjoy dan senang ketika mengikuti matkul ini, ya mungkin karena ada faktor gua suka bacot aja jadinya cocok gitu kan.

Nah, salah satu hal unik dari matkul ini ada di ujian akhir semesternya. Pada umumnya kan UAS matkul ini bentuknya pengerjaan soal atau kalau di jurusan TI itu berbentuk pengerjaan proyek, tetapi untuk matkul KAP ini, UAS-nya itu berbentuk test wawancara kerja. Yap, kalian ga salah baca, wawancara kerja, dan bahkan ini tuh latar waktunya di tahun 2031, 5 tahun setelah gua lulus (aamiin lulus 4 tahun, ga lebih). Jadi gua dan temen-temen gua diharuskan bikin CV dan surat lamaran. Di dalam CV-nya tertulis pengalaman kerja atau pendidikan atau apapun yang kami lakukan selama 5 tahun setelah gua lulus. Sedangakan di surat lamarannya, ditulis perusahaan mana yang dilamar dan posisi apa yang gua incar. Kami diharuskan hadir tepat waktu dan berpakaian rapih. Pokoknya bener-bener mirip sama orang-orang lamar kerja deh. Mana banyak dari temen-temen gua yang pakai skin default para pekerja, yang tentu saja tidak lain tidak bukan adalah kombo kemeja putih dan celana hitam dengan sepatu hitamnya (catatan, gua ga pake skin default).

Gimana rasanya wawancara kerjanya? Mengejutkannya, sangat amat lancar. Gua merasa bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Walau ada beberapa kali mulut ini berbelit-belit karena istilah-istilah yang merepotkan, tetapi secara keseluruhan ini benar-benar sangat mudah dan bahkan menyenangkan. Sebenarnya hal ini juga tidak lepas dari faktor keberuntungan gua dimana orang yang mewawancara gua itu ga bertanya hal yang aneh-aneh atau rese gitu (mana pewawancaranya cakep lagi, gile). Mungkin buat beberapa orang, keberuntungan ini tidak terlalu berlaku sebagaimana hal tersebut berlaku ke diri gua. Kita ambil contoh kasus yang terjadi pada temen gua. Udahlah pewawancaranya cowok, dia dapet pertanyaan aneh pula. Dia dapet pertanyaan "Apa kolerasi antara corak batik yang kamu gunakan saat ini dengan kepribadianmu?", kek, bro, itu kalau bukan pertanyaan iseng apalagi deh kemungkinannya.

Oiya tentang CV-nya. Ada banyak hal yang gua tulis dan gua haluin (karena emang pada dasarnya disuruh ngehalu) disana. Kurang lebih, beginilah rangkaian yang gua lakukan selama 5 tahun setelah gua lulus (tentu saja ini hanya hasil ngehalu di siang bolong):

1. Freelance sambil ngebarista manja

Gua suka kopi. Karena ketertarikan inilah gua mulai mencoba-coba jadi barista di sebuah coffe shop. Sembari menjalani kegiatan ini, gua juga bekerja sebagai freelancer agar kemampuan coding mengcoding gua ini ga hilang dimakan waktu.

2. Kerja di startup biar kayak gen z banget

Setelah setengah tahun nyoba hal yang gua suka, gua berpikir untuk mulai ambil kerja yang serius tentang hal yang sesuai dengan yang gua pelajari selama 4 tahun lamanya di Universitas. Gua bekerja sebagai software developer di sebuah perusahaan startup sembari mencari pengalaman kerja dan mengasah kemampuan diri selama 2 tahun lamanya.

3. Ke Jepang!

Keinginan gua untuk pergi ke Jepang ga pernah mati, dan gua masih cinta sama hal-hal yang berbau jejepangan. Tidak mudah untuk pergi ke sana, tetapi setelah berbagai hal, akhrinya gua berhasil diterima dan bekerja di sebuah perusahaan game terkenal disana sebagai cloud engineer. Tentu saja sembari bekerja, gua juga menikmati kehidupan gua di Jepang. Jepang mantap!

4. Jangan lupa pulang.

Setelah 2 tahun di Jepang, gua memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Hal ini tentu saja didasari oleh banyak pertimbangan. Setelah kembali ke Indonesia, gua berencana untuk melamar ke perusahaan Blibli sebagai pricipal software engineer. Doakan diriku ini lolos!

Yaaa. kurang lebih begitulah khayalan tentang hal-hal yang gua lakukan selama 5 tahun setelah lulus. Terdengar seperti omong kosong yang besar bukan? Terlebih kalau berkaca ke bagaimana gaya hidup dan sifat gua saat ini. Tetapi ada berbagai hal yang membuat gua bisa membayangkan diri gua sampai sejauh itu, salah satunya adalah perkataan dosen KAP gua ketika menginstruksikan kegiatan UAS ini. Kurang lebih beliau bilang begini "Kenapa 5 tahun? Karena saya suka orang yang dapat membayangkan masa depan dirinya sendiri. Menurut saya orang yang bisa merefleksikan masa depan diri mereka sendiri adalah orang-orang hebat yang akan berhasil", dan ya, itu cukup menyentuh kalau kau tanya diri ini.

Ya kurang lebih begitulah cerita diri ini di matkul favorit gua untuk semester ini dan bagaimana pengalaman menarik yang gua dapatkan. Tapi setelah semua pembahasan diatas, ada satu hal yang bikin gua penasaran sih, jadi gua akan langsung tanya sekaligus menyampaikan beberapa hal saja.

"Hei diriku di tahun 2031! Apakah kita berhasil melakukannya? Kalau tidak pun, menurut diriku di 2024 ini tidak apa, karena memang begitulah kita. Entah bagaimana caranya, kita pasti akan baik-baik saja."